Hari-hari di mana lemari kamar mandi pria hanya berisi sebatang sabun yang terlupakan dan kaleng aftershave biasa sudah berlalu. Kini, gelombang baru perawatan pribadi tengah melanda kaum pria, dan ini bukan hanya soal estetika. Meningkatnya kesadaran akan skincare pria mencerminkan perubahan budaya yang menarik, mendefinisikan kembali maskulinitas dan merangkul pendekatan yang lebih holistik terhadap kesejahteraan.
Dari Produk Feminin ke Kebutuhan Praktis
Sepanjang abad ke-20, skincare lebih sering dianggap sebagai ranah perempuan. Iklan-iklan penuh dengan warna pastel dan aroma bunga, menargetkan audiens tertentu. Rutinitas perawatan pria sangat minimalis, biasanya hanya sebatas krim cukur dan aftershave. Norma budaya saat itu menganggap bahwa tampilan kasar dan berangin adalah simbol maskulinitas, dan segala bentuk perawatan kulit sering kali dipandang skeptis. Namun, seiring berkembangnya pandangan masyarakat tentang peran gender, persepsi terhadap perawatan diri bagi pria juga ikut berubah.
Pergeseran Gender dalam Skincare
Media sosial memainkan peran penting dalam perubahan ini. Influencer pria kini secara terbuka membahas rutinitas skincare mereka, menormalkan praktik tersebut dan menunjukkan manfaatnya. Platform seperti YouTube dan Instagram menyediakan banyak konten edukatif, memberdayakan pria untuk membuat pilihan yang lebih baik mengenai kesehatan kulit mereka.
Selain itu, meningkatnya kesadaran akan kesehatan secara menyeluruh telah mendorong pendekatan perawatan diri yang lebih inklusif. Pria mulai menyadari bahwa memiliki kulit sehat bukan hanya soal penampilan, tetapi juga tentang kesejahteraan secara keseluruhan. Para dermatolog juga menekankan bahwa perawatan kulit tidak mengenal gender dan bahwa menjaga kesehatan organ terbesar dalam tubuh sangatlah penting.
Pasar Menanggapi Tren Skincare Pria
Pasar perawatan pribadi pria mengalami pertumbuhan pesat, dengan nilai pasar mencapai USD 30,8 miliar pada tahun 2021. Tren ini diperkirakan akan terus meningkat dengan tingkat pertumbuhan tahunan (CAGR) sebesar 9,1% dari tahun 2022 hingga 2030. Menyadari perubahan ini, berbagai merek mulai menghadirkan produk yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan unik kulit pria. Kini tersedia berbagai pembersih wajah, pelembap, dan serum yang diformulasikan khusus untuk mengatasi masalah seperti kulit lebih tebal dan produksi minyak berlebih. Pria tidak lagi harus puas dengan produk unisex yang bersifat umum—mereka sekarang memiliki pilihan perawatan yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik mereka.
Strategi pemasaran juga telah beradaptasi untuk menarik perhatian konsumen pria modern. Iklan kini lebih menekankan pada aspek praktis dan efektivitas produk, menggunakan bahasa dan visual yang sesuai dengan maskulinitas kontemporer atau lebih inklusif bagi semua gender. Kemasan produk pun menjadi lebih elegan dan minimalis, meninggalkan elemen-elemen feminin seperti warna pastel dan aroma bunga.
Meningkatnya tren skincare pria bukan sekadar soal estetika. Ini menandai pergeseran budaya dalam mendefinisikan ulang maskulinitas, menantang anggapan bahwa perawatan diri hanya untuk perempuan. Gerakan ini juga menciptakan komunitas di mana pria dapat berdiskusi secara terbuka dan berbagi pengalaman seputar perawatan kulit.
Seiring dengan meningkatnya kesadaran dan penerimaan terhadap perawatan kulit pria, industri ini diprediksi akan terus berkembang. Revolusi ini secara perlahan mengubah cara pria melihat diri mereka sendiri dan bagaimana masyarakat menilai pendekatan mereka terhadap perawatan diri.
Sebagai bagian dari tren yang berkembang ini, Bahtera akan berpartisipasi dalam acara Indonesia Cosmetic Ingredients (ICI 2024). Kami mengundang semua orang untuk mengunjungi booth kami pada 29-31 Mei 2024 di Hall D, JIEXPO Kemayoran. Acara ini gratis dan menjadi kesempatan yang sangat baik untuk mengeksplorasi inovasi serta tren terbaru dalam dunia skincare. Kunjungi booth kami dan temukan solusi skincare Anda bersama Bahtera di sini.